Senin, 08 Juni 2009

TOKSIKOLOGI INDUSTRI MENGENAI BAHAN KIMIA



TUGAS UAS TAKE HOME

TOKSIKOLOGI INDUSTRI MENGENAI BAHAN KIMIA


DISUSUN OLEH :

DORIN MUTOIF 0806384084


DEPARTEMEN KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA

FAKULTAS KESEHEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS INDONESIA

DEPOK, 2009



NAMA PRODUK : NALCO 356


NAMA KIMIA CAS NO % (w/w)

Sikloheksilamin 108-91-8 10.0 - 30.0


Keberadaaan di Lingkungan/alam :

MOBILITAS DAN POTENSI AKUMULASI-HAYATI

Nasib-dalam-lingkungan diperkirakan dengan menggunakan model fugasitas tingkat III yang tercantum dalam EPI (estimation program interface) Suite TM, yang disediakan oleh US EPA. Model ini memperkirakan kondisi tunak antara masukan dan keluaran total. Model tingkat III tidak memerlukan keseimbangan antara media yang telah ditetapkan. Informasi yang diberikan dimaksudkan untuk memberi pengguna sebuah taksiran umum tentang nasib produk ini dalam lingkungan, sesuai dengan kondisi yang ditetapkan pada model. Jika dibebaskan ke dalam lingkungan, bahan ini diperkirakan menyebar ke udara, air, dan tanah/sedimen dalam persentase taksiran masing-masing; <5% 30 - 50% 50 - 70% Bagian di dalam air diperkirakan larut atau menyebar.

Preparat atau bahan ini tidak diperkirakan mengalami akumulasi-hayati.


Keberadaan Di tempat kerja dan pemanfaatannya adalah sebagai PENGHAMBAT KOROSI

Sifat Fisik dan Kimia :


WUJUD FISIK Cair

TAMPILAN Jernih Kuning muda Hijau muda

BAU Amin

Titik Nyala 57 °C PMCC

GRAVITASI SPESIFIK 0.985 @ 15.6 °C

KELARUTAN DALAM AIR Lengkap

pH ( 100% ) 12

VISKOSITAS 5.1 cPs @ 25 °C

TITIK BEKU -8.2 °C

TEKANAN UAP 0.06 kPa @ 37.8 °C

KANDUNGAN VOC 35.4 %

Catatan: Sifat-sifat fisika ini adalah nilai tipikal untuk produk ini dan dapat berubah.


Efek Kesehatan :


BAHAYA KESEHATAN BAGI MANUSIA - AKUT

KENA MATA

Korosif. Akan menyebabkan luka bakar pada mata dan kerusakan permanen pada jaringan. Pendedahan pada uap berkonsentrasi rendah dapat mengakibatkan penglihatan berkabut atau kabur, benda tampak kebiruan dan tampak ada halo di sekeliling cahaya. Gejala ini bersifat sementara.

KENA KULIT

Dapat menyebabkan iritasi parah atau kerusakan jaringan, tergantung pada lamanya pendedahan dan jenis pertolongan pertama yang diberikan. Berbahaya jika terserap melalui kulit.

TERMAKAN

Bukan rute pendedahan yang mungkin. Berbahaya jika tertelan. Korosif, menyebabkan luka bakar pada saluran pencernaan. Mual, muntah dan sakit perut dapat terjadi. Dalam kasus parah, dapat terjadi muntah darah. Dapat menimbulkan efek dan/atau kerusakan pada hati dan ginjal.

TERHIRUP

Mengiritasi, dalam konsentrasi tinggi, pada mata, hidung, tenggorokan dan paru. Uap dapat berbau kuat menyengat yang dapat menimbulkan tanggapan indera, termasuk sakit kepala, mual dan muntah.

BAHAYA KESEHATAN BAGI MANUSIA - KRONIS

Diperkirakan tak ada efek merugikan selain yang disebutkan di atas.

BAHAYA FISIKA DAN KIMIAWI

Mudah-menyala.


PERTOLONGAN PERTAMA PADA KECELAKAAN

KENA MATA

TINDAKAN SEGERA SANGATLAH PENTING JIKA TERKENA. Segera bilas mata dengan air sedikitnya 15 menit sambil kelopak mata dibuka lebar. Jika hanya satu mata yang kena, jangan sampai mencemari mata yang satunya lagi dengan air bilasan. Jangan ditunda-tunda, segera dapatkan bantuan medis.

KENA KULIT

TINDAKAN SEGERA SANGATLAH PENTING JIKA TERKENA. Jika terciprat banyak, bilas tubuh di bawah pancuran. Jika terjadi luka-bakar parah dan daerah kulit rusak berat, tutup daerah yang terbakar dengan bahan tidak berbulu yang bersih dan kering dan dapatkan bantuan medis. Segera dapatkan bantuan medis. Pakaian, sepatu, dan barang dari kulit yang tercemar harus dibuang atau dibersihkan sebelum dipakai kembali.

TERMAKAN

Segera dapatkan bantuan medis. JANGAN MEMAKSAKAN MUNTAH. Jika sadar, basuh mulut dan berikan air untuk diminum.

TERHIRUP

Dapatkan bantuan medis. Pindahkan ke tempat berudara segar, tangani menurut gejala.

PERHATIAN UNTUK DOKTER

Kemungkinan rusaknya selaput lendir mungkin merupakan kontraindikasi bagi penggunaan penguras lambung. Berdasarkan reaksi pasien secara perorangan, penilaian dokter harus digunakan untuk mengendalikan gejala dan kondisi klinis.

Pemantauan :


INFORMASI TOKSIKOLOGIS / BIOMONITORING

DATA TOKSISITAS AKUT :

Hasil berikut ini untuk produk dan juga hasil pada komponen berbahaya.

TOKSISITAS ORAL AKUT:

Spesies

LD50

Bahan yang diuji

Tikus

779 mg/kg

Produk

TOKSISITAS KULIT AKUT:

Spesies

LD50

Bahan yang diuji

Rabbit

2,055 mg/kg

Produk

TOKSISITAS PENGHIRUPAN AKUT:

Spesies

LC50

Bahan yang diuji

Tikus

> 12,000 mg/l (8 hrs)

Morfolina

IRITASI KULIT PRIMER:

Draize Score

Bahan yang diuji

8.0 / 8.0

Produk

Peringkat: Amat sangat mengiritasi (Korosif)

IRITASI MATA PRIMER:

Draize Score

Bahan yang diuji

110 / 110.0

Produk

Peringkat: Amat sangat mengiritasi (Korosif)

SENSITISASI :

Produk ini diperkirakan bukan merupakan bahan penyensitif.

SIFAT KARSINOGENIK :

Bahan-bahan dalam produk ini tak ada yang dicantumkan sebagai karsinogen oleh International Agency for Research on Cancer (IARC), National Toxicology Program (NTP) ataupun American Conference of Governmental Industrial Hygienists (ACGIH).

SIFAT MUTAGENIK :

Uji sifat mutagenik morfolina memberikan hasil berikut ini: Bioesai sifat mutagenik (Ames) bakteri ternyata negatif; transformasi pertukaran kromatid saudara ternyata positif; limfoma mencit ternyata positif lemah dan perbaikan hepatosit/DNA tikus ternyata negatif. Baterai uji sifat mutagenik sikloheksilamin ternyata tak bisa disimpulkan. Pada uji jangka-pendek, sikloheksilamin menyebabkan mutasi pada sel darah putih manusia.

Lingkungan :

EFEK EKOTOKSIKOLOGIS :

Hasil berikut ini untuk produk.

Hasil Akut pada Ikan :

Spesies

Pendedahan

LC50

Bahan yang diuji:

Ikan Rainbow Trout

96 jam

130 mg/L

Produk

Ikan Fathead Minnow

96 jam

75 mg/L

Produk

Ikan Rainbow Trout

96 jam

130 mg/L

Produk yang sama

Hasil Akut pada Invertebrata :

Spesies

Pendedahan

LC50

Bahan yang diuji:

Daphnia magna

48 jam

190 mg/L

Produk yang sama


KEGIGIHAN DAN PENGURAIAN

Permintaan Oksigen Kimiawi (Chemical Oxygen Demand, COD): 573,000 mg/L

Permintaan Oksigen Biologis (Biological Oxygen Demand, BOD): 1,000 mg/L

Bagian organik preparat ini diperkirakan segera mengalami penguraian-hayati.

MOBILITAS DAN POTENSI AKUMULASI-HAYATI

Nasib-dalam-lingkungan diperkirakan dengan menggunakan model fugasitas tingkat III yang tercantum dalam EPI (estimation program interface) Suite TM, yang disediakan oleh US EPA. Model ini memperkirakan kondisi tunak antara masukan dan keluaran total. Model tingkat III tidak memerlukan keseimbangan antara media yang telah ditetapkan. Informasi yang diberikan dimaksudkan untuk memberi pengguna sebuah taksiran umum tentang nasib produk ini dalam lingkungan, sesuai dengan kondisi yang ditetapkan pada model. Jika dibebaskan ke dalam lingkungan, bahan ini diperkirakan menyebar ke udara, air, dan tanah/sedimen dalam persentase taksiran masing-masing; <5% 30 - 50% 50 - 70% Bagian di dalam air diperkirakan larut atau menyebar.

Preparat atau bahan ini tidak diperkirakan mengalami akumulasi-hayati.


PENGENDALIAN /PERLINDUNGAN PRIBADI

BATAS PENDEDAHAN DI TEMPAT KERJA

Panduan pendedahan belum disusun untuk produk ini. Batas pendedahan untuk bahan ini ditunjukkan di bawah ini.

BATAS PENDEDAHAN DI TEMPAT KERJA TWA TWA STEL STEL

(ppm) (mg/m3) (ppm) (mg/m3)

ACGIH/TLV

SIKLOHEKSILAMIN 10 41

* Catatan tentang kulit menjelaskan potensi kontribusi yang signifikan akibat pendedahan menyeluruh melalui rute kulit, termasuk selaput lendir dan mata.

TINDAKAN PEMANTAUAN

Sedikit udara disedot melalui penyerap atau penghalang untuk menjerat bahan yang kemudian dapat didesorbsi atau dibuang dan dianalisis seperti yang dirujuk di bawah ini:

Bahan

Metode

Analisis

Penyerap

SIKLOHEKSILAMIN

US NIOSH: 2010

Kromatografi gas

Jelly Silika

MORFOLINA

US OSHA: CIM

Kromatografi gas

Jelly Silika


TINDAKAN REKAYASA

Gunakan sistem dosing tertutup. Penggunaan ventilasi lokal gas-buang disarankan untuk mengendalikan emisi dekat sumber. Sampel laboratorium harus ditangani di kamar asap (fumehood). Sediakan ventilasi mekanis pada ruang yang terkurung.


PERLINDUNGAN PRIBADI

NASIHAT UMUM

Penggunaan dan pilihan perlengkapan pelindung pribadi berkaitan dengan bahaya produk, tempat kerja dan cara penanganan produk . Pada umumnya, sebagai perlindungan minimum kami menyarankan penggunaan kacamata keselamatan berpenutup-samping dan pakaian kerja yang melindungi lengan, kaki dan tubuh. Di samping itu juga dengan orang yang memasuki kawasan tempat produk ini sedang ditangani.


PERLINDUNGAN SALURAN PERNAFASAN

Harus digunakan respirator yang sesuai jika batas pendedahan di tempat kerja mungkin terlampaui. Udara yang dipenuhi bahan kimia akan terganti ketika mengisi-ulang tangki cadangan. Jika harus tetap berada di dekat wadah pada saat-saat demikian dan daerah itu berventilasi buruk, harus dipakai respirator yang sesuai. Kartrid uap organik dengan prafilter debu/kabut atau pasokan udara boleh digunakan. Dalam peristiwa darurat atau adanya rencana memasuki konsentrasi yang tak diketahui, harus digunakan SCBA bertekanan positif yang menutupi seluruh wajah Jika perlindungan saluran pernafasan diperlukan, mulailah program lengkap perlindungan saluran pernafasan, termasuk pemilihan, uji kelayakan, pelatihan, pemeliharaan dan pemeriksaan.

PERLINDUNGAN TANGAN

Sarung tangan butil. Kebanyakan bahan sarung tangan kurang tahan bahan kimia. Ganti sarung tangan secara berkala.

PERLINDUNGAN KULIT

Pakai celemek tahan bahan kimia, kacamata-pelindung percikan bahan kimia, celemek dan sepatu bot kedap air. Disarankan pakaian-menyeluruh yang lebih tahan jika mungkin terjadi pendedahan menyeluruh.

PERLINDUNGAN MATA

Pakai pelindung wajah dengan kacamata-pelindung percikan bahan kimia.

SARAN KEBERSIHAN

Terapkan kebiasaan kerja yang baik dan kebersihan pribadi agar tidak terdedah. Harus ada pancuran pencuci mata. Harus ada pancuran penyelamat. Jika pakaian tercemar, lepaskan pakaian dan cuci bersih daerah yang tercemar. Cuci pakaian yang tercemar sebelum dipakai lagi.


Di Posting Oleh : Dorin Mutoif, Poltekkes Depkes Yogyakarta Jurusan Kesehatan lingkungan
Occupational Health and Safety, University of Indonesia
Munggu, Petanahan, Kebumen, Jawa Tengah


Senin, 04 Mei 2009

Fire Safety Management

Naik Sekun ( Sepeda Kuning )

Fire Safety ManagementRata Penuh

Fire Safety Management harus dilaksanakan dari mulai proses desain gedung, commisioning dan operasional gedung. Selama ini dalam pembangunan gedung, pemilik gedung hanya melibatkan konsultan perencana bangunan (arsitek), manajemen konstruksi, listrik dan kontraktor bangunan tetapi belum melibatkan konsultan fire safety. Artinya pihak pemilik/pengelola harus lebih berkoordinasi dengan pihak-pihak yang kompeten untuk setiap bidang, tidak terkecuali masalah fire safety, dalam perencanaan pembangunan gedung. Sementara di negara maju dalam pembangunan gedung harus melibatkan fire safety consultant.

Penyusunan Fire Safety Management memang tidak mudah karena terdiri dari beberapa rangkaian system yang harus dijelaskan secara terinci dan dapat diaplikasikan. Berikut ini adalah model / elemen Fire Safety Management System untuk gedung dalam keadaan beroperasi, yakni:
1. Management Commitment
2. Baseline Assessment
3. Pre-Fire Planning
4. Implementation
5. Control
6. Audit
7. Management Review

Dari elemen-elemen Fire safety Management tersebut memperlihatkan bahwa komitmen dari manajemen menjadi dasar dalam penyusunan Fire Management System. Dan biasanya komitmen menjadi kendala tersendiri seperti yang sudah dijelaskan dalam penelitian Fire Safety Management.

Elemen berikutnya adalah Baseline Assessment. Tujuan dari baseline assessment adalah untuk memberikan gambaran kepada manajemen atas kondisi terakhir aspek-aspek keselamatan gedung miliknya atau yang dikelolanya. Aspek-aspek tersebut adalah personil, peralatan dan sistem atau prosedur yang ada. Dengan data yang terkumpul dari ketiga aspek tersebut maka pemilik/pengelola gedung akan dapat melihat posisi kesiapannya dalam menghadapi kebakaran atau bentuk emergency lainnya. Dengan demikian baseline assessment menjadi dasar dalam penentuan perencanaan fire emergency.

Sementara itu untuk Pre-Fire Planning terdiri dari beberapa elemen yaitu: prevention, preparedness, response dan recovery.

Fungsi Prevention (pencegahan) di sini adalah mengidentifikasi penyebab-penyebab maupun akibat-akibat yang ditimbulkan lebih dini sehingga beberapa tindakan dapat dilakukan untuk meminimalisir kemungkinan kejadian yang mengakibatkan kebakaran untuk mengurangi dampak insiden pada gedung maupun sekitar gedung.

Preparedness berarti merencanakan aktivitas, program dan sistem yang disiapkan sebelum terjadi kebakaran. Pada preparedness inilah pihak manajemen merancang suatu perencanaan yang matang dalam hal penciptaan kesiapan tanggap darurat kebakaran. Seperti pemberian training kepada security agar dapat menanggulangi kebakaran dini, emergency drill yang melibatkan penghuni, penyiapan kerjasama dalam penanggulangan kebakaran (mutual aid), pelaksanaan fire safety meeting dengan penghuni atau pengguna gedung dan kegiatan lain yang bersifat peningkatan kesiapsiagaan.

Response (Penanggulangan) bertujuan menstabilkan dan mengendalikan fire emergency. Jika suatu kebakaran terjadi maka tindakan penanggulangan secara efektif harus dilakukan. Bagaimana mengkoordinasikan sumber daya yang ada? Bagaimana evakuasi dapat berjalan dengan efektif? Belum lagi aspek keselamatan dalam penanggulangan merupakan pertanyaan-pertanyaan yang harus terjawab dalam operasi penanggulangan emergency.

Recovery (Pemulihan) merupakan elemen yang dipersiapkan untuk mengembalikan fasilitas, lingkungan sekitar gedung dan perangkat lainnya agar kembali berfungsi. Pada recovery inilah analisa dampak dan minimalisasi dampak kebakaran harus dituangkan dalam perencanaan recovery yang efektif dan dilaksanakan secara konsisten. Beberapa hal penting yang patut dipertimbangkan secara matang adalah Incident Investigation, Damage Assessment, Clean Up and Restoration, Business Interruption, Claim Procedures dan lainnya.

Setelah Pre-Fire Planning ini tersusun maka langkah berikutnya adalah tinggal pelaksanaannya. Dalam tahap pelaksanaan ini perlu dilakukan pengawasan agar setiap kegiatan mencapai tujuan yang ditetapkan. Dalam sebuah sistem, elemen yang perlu dilakukan adalah audit. Pelaksanaan audit ini sangat esensial untuk menjamin bahwa selama sistem berjalan pada kurun waktu tertentu telah dilaksanakan sesuai dengan ketentuan dan kebijakan perusahaan.

Fire Safety Management ini juga harus dikaji ulang (review) agar selalu kontekstual dengan perubahan gedung dan lingkungan gedung. Sehingga Fire Safety Management akan selalu dapat diaplikasikan dan tidak menimbulkan kebingungan. Review ini biasanya dilakukan karena adanya perubahan organisasi, perubahan fisik bangunan gedung, adanya ketentuan atau perundangan yang baru, adanya tuntutan keselamatan dari penyewa gedung dan sebagainya.

Dari paparan diatas dapat disimpulkan bahwa Fire Safety Management menjadi faktor penting dalam manajemen pengelolaan bangunan tinggi dan elemen penting daya saing bisnis sekarang ini. Berangkat dari kenyataan ini maka sudah waktunya bagi pemilik atau pengelola gedung dituntut harus lebih profesional dalam menghadapi dan menanggulangi kebakaran yang mungkin menimpa bangunan gedungnya. Kualitas profesionalisme dalam aktivitas bisnis bangunan tinggi dapat tercermin dari Fire Safety Management yang dimilikinya dan diaplikasikan secara konsisten
http://arialat.multiply.com/journal/item/11

Mengapa Dibutuhkan Program Emergency Planning??

Mengapa Dibutuhkan Program Emergency Planning?

Alasan yang jelas adalah bahwa emergency dapat dan pasti terjadi, dan ketika terjadi emergency secara instingtif kita akan melindungi diri kita serta property yang kita miliki. Cara yang paling efektif dan logis adalah dengan merencanakan dan mempersiapkan segala sesuatunya untuk menghadapi emergency.

Adapun elemen-elemen dalam program emergency planning adalah:

• Pengkajian Bahaya
Manajemen harus melakukan kajian terhadap hazard yang dapat menimbulkan insiden. Terutama bagi industri-industri dengan tingkat bahaya yang tinggi harus mengidentifikasi bahaya dan mengevaluasinya. Banyak metode-metode yang bisa digunakan untuk mengidentifikasi bahaya yang mungkin timbul berikut analisa dampaknya.


• Evaluasi Sumber Daya
Dalam emergency response planning sumber daya yang ada di perusahaan juga harus dievaluasi. Berdasarkan skenario terburuk yang ditetapkan maka akan dapat terukur apakah sumber daya yang dimiliki telah sesuai dengan kebutuhan untuk menghadapi atau menanggulangi kondisi emergency.

• Membuat Emergency Planning dan Prosedur
Setelah melakukan kajian terhadap bahaya dan mengevaluasi sumber daya yang diperlukan, maka kegiatan berikutnya adalah penyusunan emergency planning dan prosedur penanggulangannya. Bagaimanapun emergency planning dan prosedur penanggulangan merupakan buku pintar dalam persoalan menyangkut emergency. Oleh karena itu hal ini perlu disosialisasikan kepada para pegawai, tiap-tiap departemen di perusahaan dan para kontraktor yang terlibat dalam pekerjaan di perusahaan yang bersangkutan.

• Mengintegrasikan dengan Emergency Planning di Masyarakat
Emergency planning ini juga harus diintegrasikan dengan emergency plan yang dimiliki oleh pemda setempat. Biasanya hal ini sulit dilakukan karena perlu ada penyesuaian-penyesuaian antara perusahaan dengan pemerintah daerah setempat. Padahal banyak insiden yang disebabkan industri yang kemudian berdampak kepada masyarakat luas di suatu daerah membutuhkan koordinasi yang solid antara pihak perusahaan dan Pemda. Dalam kajiannya, UNEP (United Nations Environment Programme) telah memberikan porsi kepada Coordinating Group yang berisi para stakeholder di masyarakat, wakil perusahaan dan Pemda untuk menjadi jembatan antara perusahaan dan Pemda dalam hal pengintegrasian emergency planning untuk tingkat masyarakat ini.

• Melakukan Training
Perlu dilakukan training mengenai emergency planning kepada terutama pihak manajemen atau para key personnel dalam struktur organisasi emergency di dalam perusahaan. Namun demikian para pengambil kebijakan di pemerintahan juga perlu mendapat training atau sosialisasi tentang emergency planning, paling tidak sebagai masukan dalam hal persiapan menghadapi emergency di wilayahnya.

• Edukasi kepada Masyarakat
Salah satu hak dari masyarakat adalah mengetahui bahaya apa yang mungkin muncul atas hadirnya suatu industri di wilayahnya. Pihak perusahaan harus terbuka dan mampu memberikan penerangan kepada masyarakat perihal keselamatan dan bahaya-bahaya dari industri yang didirikannya. Untuk itu perlu dipertimbangkan untuk membentuk Coordinating Group sebagai mediasi antara masyarakat, perusahaan dan pemda setempat agar pendidikan emergency awareness kepada masyarakat dapat berjalan efektif.


• Melaksanakan Drill dan Latihan emergency
Untuk mengetahui apakah emergency planning dan prosedur yang tersusun dapat diaplikasikan maka perlu dilakukan drill. Baik yang bersifat functional drill seperti Table Top untuk pihak manajemen perusahaan, On-Scene Commander untuk key personnel di lokasi kejadian emergency, emergency response drill untuk seluruh key personnel organisasi emergency perusahaan maupun full scale exercise dimana melibatkan banyak pihak termasuk masyarakat. Dengan melakukan drill ini maka akan dapat dievaluasi apakah emergency planning dan prosedur yang ada telah cukup memadai dan telah dimengerti.

Industri hari ini, harus mempertimbangkan faktor-faktor eksternal untuk mendukung program emergency planning yang efektif. Faktor eksternal tersebut adalah:
- Employee health and safety
- Media
- Liability
- Government regulations
- Insurance
- Public pressur
- Dan lain-lain

Emergency atau disaster tidak bisa dihindari secara total, namun kita tetap masih bisa mengantisipasi tentunya dengan persiapan yang efektif, mengurangi frekuensi kejadian dan tingkat keparahan kerusakan. Pada tingkat industri, emergency planning mestinya merupakan tanggung jawab manajemen yang paling fundamental
http://arialat.multiply.com/journal/item/10

Diposting oleh : Dorin Mutoif, Poltekkes Depkes Yogyakarta Jurusan Kesehatan lingkungan
Occupational Health and Safety, University of Indonesia
Munggu, Petanahan, Kebumen

Kamis, 02 April 2009

TOKSIKOLOGI INDUSTRI SISTEM IMUNITAS PADA TUBUH ( IMUNOTOXICOLOGI )



TUGAS KELOMPOK TOKSIKOLOGI INDUSTRI

SISTEM IMUNITAS PADA TUBUH ( IMUNOTOXICOLOGI )



DISUSUN OLEH :


Dorin Mutoif ( 0806384084 )

Muhammad Riza Wahyu ( 0806385124 )



DEPARTEMEN KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS INDONESIA

DEPOK, 2009



Penyakit

Jenis Toksikan

Gejala

1. Imunosupresi

· Timbal

· Merkuri

· Ethanol

· Benzene

· Polychlorinated biphenyl

· Polibrominated biphenyl

· Dibenzodioksxins

· Hidrokarbon aromatik polisiklik

· Urethane

· Pestisida ( karbamat, organoklorin, organofosfat )

Imunosupresi adalah suatu kondisi dimana terjadi penurunan reaksi pembentukan zat kebal tubuh atau antibodi akibat kerusakan organ limfoid. Dengan adanya penurunan jumlah antibodi dalam tubuh, maka penyakit-penyakit akan lebih leluasa masuk dan menginfeksi bagian tubuh. Hal tersebut akan menyebabkan adanya gangguan pertumbuhan dan produksi. Jadi, sangatlah penting untuk mengenali dan mengetahui imunosupresi.

http://infovet.blogspot.com/2007/09/bagaimana-mengenali-dan-mengatasi.html

2. Alergi

· Formaldehida

· Nikel

· Kromium

· Emas

· Merkuri

· Berilium

· Resin dan plasticizer ( toluene diisosianat, trimelitik anhidrida )

· Ftalik anhidrida

· Pestisida

· Etilenediamin

· Zat tambahan makanan ( azodyes, BHT, BHA )

· Anti mikrobial ( EDTA, merkuri ) senyawa platinum

Hipersensitivitas adalah respon imun yang merusak jaringan tubuh sendiri. Mereka terbagi menjadi empat kelas (tipe I – IV) berdasarkan mekanisme yang ikut serta dan lama waktu reaksi hipersensitif. Tipe I hipersensitivitas sebagai reaksi segera atau anafilaksis sering berhubungan dengan alergi. Gejala dapat bervariasi dari ketidaknyamanan sampai kematian. Hipersensitivitas tipe I ditengahi oleh IgE yang dikeluarkan dari sel mast dan basofil. Hipersensitivitas tipe II muncul ketika antibodi melilit pada antigen sel pasien, menandai mereka untuk penghancuran. Hal ini juga disebut hipersensitivitas sitotoksik, dan ditengahi oleh antibodi IgG dan IgM. Kompleks imun (kesatuan antigen, protein komplemen dan antibodi IgG dan IgM) ada pada berbagai jaringan yang menjalankan reaksi hipersensitivitas tipe III. Hipersensitivitas tipe IV (juga diketahui sebagai selular) biasanya membutuhkan waktu antara dua dan tiga hari untuk berkembang. Reaksi tipe IV ikut serta dalam berbagai autoimun dan penyakit infeksi, tetapi juga dalam ikut serta dalam contact dermatitis. Reaksi tersebut ditengahi oleh sel T, monosit dan makrofag.

3. Autoimunitas

· Dieldrin

· Vinil klorida

· Trikloroetilen

· Quartz

· Perkloroetilen

· Epoxy resin

· hidrazin

Respon imun terlalu aktif menyebabkan disfungsi imun yang disebut autoimunitas. Sistem imun gagal untuk memusnahkan dengan tepat antara diri sendiri dan bukan diri sendiri, dan menyerang bagian dari tubuh. Dibawah keadaan sekitar yang normal, banyak sel T dan antibodi bereaksi dengan peptid sendiri. Satu fungsi sel (terletak di thymus dan sumsum tulang) adalah untuk memunculkan limfosit muda dengan antigen sendiri yang diproduksi pada tubuh dan untuk membunuh sel tersebut yang dianggap antigen sendiri, mencegah autoimunitas.




Daftar Pustaka :

http://id.wikipedia.org/wiki/Imunitas

http://id.wikipedia.org/wiki/Imunitas_selular

http://id.wikipedia.org/wiki/Sistem_kekebalan

http://www.infobunda.com/pages/articles/artikelshow.php?id=27



Diposting Oleh : Dorin Mutoif, Poltekkes depkes Yogyakarta Jurusan kesehatan lingkungan
Occupational health and Safety, university of Indonesia
munggu, Petanahan, kebumen